Sungai Tabalong Tercemar Lumpur

10 Mar 2010

Sudah menjadi rutinitas, setiap hujan sungai yang ada di sepanjang sebagian besar permukiman masyarakat Tabalong bercampur lumpur, diduga akibat pertambangan di hulu sungai tersebut, yang mengalir ke sungai yang sebagian besar dipergunakan masyarakat setempat.
Seperti yang terjadi, Sabtu (20/2), sungai Tabalong tersebut nampak berwarna tidak seperti biasanya yakni kekuning-kuningan dan bercampur lumpur, hal itu selalu terjadi jika hujan mengguyur daerah pertambangan di hulu sungai tersebut.

“Jika air sungai seperti ini, kemungkinan besar ikan-ikan yang ada dalam keramba di sungai ini banyak akan terserang penyakit, ujar salah seorang pemelihara ikan yang ada di Desa Mahe Pasar Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong.

Selama ini, masyarakat beranggapan bahwa lumpur yang mencemari Sungai Tabalong itu, berasal dari pertambangan batubara di Desa Kintap dan Sungai Pipa Kalimantan Tengah, sekaligus sebagai hulu sungai Tabalong yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat yang hidup di sekitar aliran sungai tersebut. “Lumpur itu, berasal dari pertambangan batubara di Desa Kintap dan Sungai Pipa, ujar Darkuni berspikulasi.

Terpisah, Rusma, tokoh masyarakat desa tersebut juga mengatakan hal yang senada, menurutnya tercemarnya Sungai Tabalong sampai seperti itu, terjadi semenjak beroperasinya perusahaan pertambangan di wilayah Kalteng tersebut. “Mestinya jika mau membuka tambang, terlebih dahulu memperhitungkan dampak lingkungannya, tegasnya.

Menurut Rusma, pertambangan yang ada di desa tersebut, masih berstatus ilegal, sehingga memang tidak ada ijin lingkungannya. “Pertambangan di Desa Kintap dan Sungai Pipa tersebut, masih berstatus ilegal, pengusaha menjual hasil pertambangan batubara di daerah itu ke penadah yang ada di klanis dan kemudian dijual kepada perusahaan lainnya, ujarnya.

Diceritakan Rusma, informasi status perusahaan penambang itu dari warga desa tempat ia tinggal yang bekerja di perusahaan tersebut, sebagai jasa pengangkut hasil pertambangan ke daerah klanis.

“Mestinya pemerintah daerah, dalam hal ini instansi terkait, jika peduli dengan masyarakat, segera menyikapi hal ini, sebab ini berpengaruh pada masyarakat yang sebagian besar masih menjadikan aliran sungai tersebut sebagai sumber kehidupan, demikian Rusma. (ros/K-6)


TAGS


Comment
-

Author

Follow Me