Petani Karet Kaya Mendadak Seiring Naiknya Harga

10 Mar 2010

Harga nilai tukar komoditi eksport karet alam Kalsel mulai membaik, bahkan menurut Gapkindo Kalsel harga karet alam lokal saat ini kondisinya seperti sebelum krisis moneter (Krismon) dihargai Rp13.000 hingga Rp14.000/kilo, naiknya mencapai 100 persen.
Sebelumnya harga karet alam yang sempat menjadi primadona petani banua harganya terus semakin terpuruk seiring dengan permintaan order dari buyer luar negeri yang semakin berkurang, paska krisis moneter.

“Sehingga para petani mulai enggan memanen karet alamnya dikarenakan harga yang dinilai tidak menguntungkan lagi, penurunan nilai eksport karet alam hingga 70 persen lebih saat itu,” ucap Branch Manager PT Insan Bonafide Andreas, kepada wartawan, Rabu (3/3).

“Kini petani karet alam Kalsel mulai sugihan (kaya mendadak-red), mereka mulai rajin menjual dan memanen karet alamnya yang sempat ditinggalkan seiring dengan membaiknya harga nilai tukar karet dunia,” pungkasnya.

Disebutkan, harga karet alam terus membaik dalam 3 bulan terakhir ini, bahkan harga nilai jual karet alam Kalsel saat ini seperti ketika paska krisis moneter harga sangat bagus-bagusnya.

Abdul Samad petani karet asal Martapura mengatakan, 3 bulan terakhir ini harga jual karet alam ditingkat perusahaan Banjarmasin benar-benar bagus, harga perkilo karet kualitas baik sekitar Rp13.000 hingga Rp14.000, sedangkan karet kualitas biasa dihargai sekitar Rp10.500/kilo.

Harga ini tentu lebih baik dibanding 6 bulan yang lalu yang menurun hingga 100 persen, sehingga banyak petani yang gulung tikar mengubah usahanya dengan berkebun dan berladang.

Dijelaskan Samad, tidak sedikit mobil pick up serta sepeda motor kreditan yang ditarik lembaga lessing (pembiayaan-red), akibat petani tidak bisa membayar angsuran kreditnya.

“Pada waktu itu harga karet alam nilai jualnya hanya Rp5000 hingga Rp5500/kilonya,” imbuhnya.

Sekarang taraf kehidupan petani karet Istambul Martapura mulai membaik, dengan panen 3 kali dalam seminggu, dengan lahan seluas 2 hingga 3 hektar dapat menghasilkan keuntungan sekitar Rp200.000/hari,” tambah Tambrun sumringah, ketika menjual karet basahnya di PT Insan Bonafide.

Menurut Tambrun, hampir 75 persen karet basah alam yang dijual ke perusahaan di Banjarmasin berasal dari seputaran wilayah Martapura, untuk muatan satu pikc up total muatan sekitar 1 ton lebih dalam satu minggu 2 kali kirim.

Sebelumnya permintaan yang cukup besar pasar dunia terutama Negara Jepang dan Amerika Serikat terhadap karet alam Kalsel menjadikannya primadona Ekspor andalam utama Kalsel selain rotan, batu bara, kelapa sawit dan kayu plywood, karena pada waktu itu permintaan pasar ekspor setiap tahunnya sangat menggembirakan, walaupun disisi lain kualitas karet Kalsel dinilai masih sangat rendah jika dibandingkan Negara Malaysia dan Thailand yang sempat berguru dengan Indonesia tentang karet alam.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Pedagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kalsel melalui Kasubdin Bina Perdagangan Luar Negeri Hj Djumiah mengatakan, harga karet kalsel kembali semakin terpuruk turun pada bulan Maret nilai jual hanya sekitar 1,4 dollar US per kilonya, walaupun sebelumnya sempat berada diharga 1,2 dollar US hingga 1,3 dollar US.

Selain itu, yang menjadi kendala ditengah turunnya harga karet Kalsel diikuti dengan semakin lemahnya order pembelian karet alam dari buyer yang ada diluar negeri, seperti negara Jepang, Amerika Serikat, Asia serta negara Erofah.(Sumber : hif/KalimantanPost-7)


TAGS


Comment
-

Author

Follow Me