Petani Tabalong Gagal Panen karena Kekeringan

5 Oct 2009

Petani Tabalong Gagal Panen karena Kekeringan

Tanjung, KP Kekuatiran banyak petani yang akan gagal panen karena kemarau panjang tahun ini, tampaknya sudah mulai terbukti, ratusan hektare tanaman padi yang terdapat di beberapa wilayah di Kabupaten Tabalong mulai mengering dan mati.

Matinya padi milik para petani ini kebanyakan diakibatkan, karena sawah mereka sudah lama tidak dialiri air seperti biasanya di musim hujan. Seperti halnya, sawah yang terdapat di Kampung Jawa Kecamatan Jaro, saluran irigasi yang ada tidak mampu naik untuk mengairi sawah para petani lantaran aliran sungai dari gunung juga surut.

“Air untuk mengairi tanaman padi sekarang sudah tidak bisa lagi ke sawah mereka, air irigasi dari dam Jaro sekarang, sudah sangat surut dan tidak bisa lagi mengairi sawah, tutur Sarwono, salah seorang petani di Kampung Jawa Kecamatan Jaro.

Dituturkannya, petani kebanyakan tidak menduga bila kemarau pada tahun ini sangat panjang, sehingga mereka tidak mengatur waktu tanamannya, perkiraan mereka memasuki bulan September tahun ini, sudah masuk musim hujan, ternyata tidak, sehingga sawah yang sudah mereka tanami dengan padi akhirnya mengering karena kekurangan air.

“Rata-rata sawah di Jaro ini, mengandalkan pengairan irigasi dari dam yang terletak di Desa Namun, kemarau panjang menjadikan air turun drastis hingga pada keadaan kritis seperti sekarang ini, lanjutnya.

Dibeberkan Sarwono, sampai saat ini belum ada langkah dari masyarakat maupun pemerintah yang diambil untuk mengatasi kekeringan di sana, pompanisasi juga tidak dilakukan, karena air yang dipompa debetnya sedikit sekali, petani akhirnya membiarkan padi mereka yang berusia antara dua minggu hingga satu bulan mengering dan tidak berharap akan panen tahun ini.

Tidak semua persawahan di Jaro, mengalami gagal panen karena sawah yang berada di daerah rawa masih bisa dipanen, kebutuhan airnya diperkirakan masih mencukupi hingga masa panen. Selain persawahan yang berada di daerah rawa, sawah yang musim tanamnya dimajukan oleh pemiliknya juga akan panen.

Berbeda dengan petani di Desa Kitang Kecamatan Tanjung, meski turut merasakan dampak dari kemarau panjang tahun ini, petani di sini terlalu merasakannya karena mereka hanya menggarap sawah setahun sekali, menyesuaikan dengan keadaan alam, jika sudah masuk musim penghujan maka mereka mulai menggarap sawah mereka.

Mama Amah, petani asal Desa Kitang ini, tidak terlalu merasakan dampak kemarau panjang tahun ini, karena kebiasaan ibu dua anak ini apabila menggarap lahan sawahnya, menyesuaikan dengan keadaan alam.

“Masyarakat di sini kebanyakan petani karet, jadi kalau ke sawah hanya musiman saja, terangnya.

Menurutnya, selain menanam padi di sawah, masyarakat ditempat itu juga berkebun di pinggir sungai Tabalong. “Justeru dengan adanya musim kemarau yang panjang petani merasa diuntungkan, karena air sungai Tabalong surut sehingga lahan yang ada di kanan kirinya sungai bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menanam sayur mayur seperti mentimun dan lainnya, pungkas Mama Amah. (ros/K-5)


TAGS


Comment
-

Author

Follow Me