c. Mitos

15 Sep 2009

Legenda Kerajaan Nansarunai Banua Lawas

Menurut hikayat yang punya cerita, dahulu kala sekitar tahun 1309 1358 berdiri sebuah kerajaan bercorak Hindu dari suku Maanyan di Pasar Arba, Kecamatan Banua Lawas tepatnya disekitar Mesjid Kuno Banua Lawas yang pada saat kerajaan itu berdiri dijadikan sebagai tempat atau aula Balai Adat. Mesjid itu sekarang masih tegar berdiri meskipun sudah berusia hampir 5 abad sejak tahun 1528 didirikan oleh seorang mubaligh Maanyan bernama Labai Lamiah, 200 tahun sebelumnya tempat itu dijadikan wahana berkumpul Raja dan rakyatnya yang dalam kitab Negarakertagama disebutkan sebagai takhlukkan kerajaan Majapahit pada masa kejayaan Mahapatih Gajah Mada.
Kerajaan itu bernama Nansarunai, cerita turun temurun kata Nansarunai berasal dari kebiasaan rakyat dan rajanya gemar menyanyi dan menari dengan ringan alat musik yang dominan berupa suling berlobang tujuh buah yang dinamakan Serunai. Sedangkan kata Nan berasal dari bahasa Melayu yang berarti yang.
Beberapa petilasan kerajaan ini cukup banyak dan tersebar di sepanjang propinsi Kalimantan selatan, seperti di Gunung Pamaton yang disebutkan sebagai tempat penyimpanan pusaka, di daerah Nagara, Kandangan yang hingga kini memiliki kemampuan membuat senjata yang konon ceritanya didaerah itu bekas tentara Majapahit yang tertinggal dan tidak pulang ke negara asalnya dan berasimilasi dengan orang orang Nansarunai pasca pertempuran besar antara Majapahit Nansarunai.
Kehidupan rakyat Nansarunai pada awalnya makmur dan sejahtera, posisi Kerajaan yang tak jauh dari transportasi sungai, memungkinkan rakyatnya melakukan perdagangan ke luar daerah hingga ke Jawa, Sulawesi bahkan Madagaskar. Barang dagangan yang mereka bawa diantaranya, rotan, damar, kayu besi dan madu lebah hutan. Akibat dari perdagangan inilah keberadaan Kerajaan Nansarunai tercium oleh Kerajaan majapahit yang saat itu tengah giat-giatnya mempersatukan nusantara dengan sumpah palapa nya Patih Gajah Mada.
Kerajaan Nansarunai kemudian dilaporkan ke Mahapatih Gajah Mada, merupakan sebuah negeri yang kaya raya dan makmur berada di aliran Sungai Tabalong. Gajah Mada setelah menerima laporan, segera memanggil Laksamana Nala dan diperintahkan berangkat menakhlukkan Kerajaan Nansarunai dengan membawa prajurit 2000 orang, menggunakan kapal layar dari Surabaya menuju Banjarmasin kemudian memudikki sungai Tabalong. Keberangkatan Panglima Nala diperkirakan sekitar tahun 1350.
Sementara itu di singgasana Kerajaan Nansarunai, Raden Anyan sebagai Raja terakhir sebelum keruntuhannya terlihat gelisah, ia seperti merasakan bahwa negaranya akan hancur melalui firasat yang didapatnya lewat mimpi dan pertanda. Kemudian ia memanggil Patih dan Uria berikut ke tujuh putranya untuk menghadap. Raden Anyan yang merupakan raja ke tiga setelah ayahnya Raden Neno dan kakeknya pendiri kerajaan Nansarunai Raden Japutra Layar meninggal, memerintahkan sang patih dan ke tujuh putranya agar bersiap-siap menjaga setiap kemungkinan.
Dan benar saja, kegelisahan sang raja terjawab tatkala seorang prajurit melapor bahwa di hilir sungai Tabalong tak jauh dari tapal batas kerajaan nansarunai terdapat ribuan pajurit bersenjata lengkap naik ke darat dan mulai menduduki satu desa ke desa yang lain. Alkisah, pertempuran besar terjadi. Pasukan Majapahit dipimpin oleh Panglima Nala dan Senapati Wiraraja, sedangkan dari Nansarunai Raden Anyan langsung memimpin pertempuran di medan laga. Akhirnya pertempuran selesai setelah berhari-hari berlangsung, ditandai dengan gugurnya Raden Anyan oleh tombak Panglima Nala dan moksanya ke tujuh putra Raden Anyan. Peristiwa pertempuran itu diperkirakan berlangsung pada tahun 1358 hingga keruntuhan kerajaan Nansarunai.**

————————————————————————————————–

Kisah Perjuangan Ratu Zaleha

Nama Ratu Zaleha sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Tabalong kerena nama tersebut diabadikan menjadi nama salah satu jalan di pusat kota Tanjung. Siapakah sebenarnya Ratu Zaleha ini ? menurut sejarah Ratu Zaleha adalah puteri dari Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari yang turut berjuang dalam perang Banjar bersama wanita-wanita suku dayak. Ia merupakan tokoh emansipasi wanita di Kalimantan, karena perjuangannya melawan penjajah Belanda kendati seorang wanita yang semestinya jauh dari hiruk pikuk peperangan dan senjata tajam.
Gugurnya ayahandanya Sultan Muhammad Seman dan jatuhnya benteng pertahanan Manawing, tertangkapnya Panglima Batur pada ahun 1905, maka perang Banjar yang dimulai dengan penyerangan terhadap benteng dan pertambangan batu bara Oranje Nassau di Pengaron Kabupaten Banjar tahun 1859, dinyatakan berakhir pada tahun 1905.
Tokoh-tokoh pejuang yang tetap bertahan melanjutkan perjuangan terpaksa akhirnya harus menyerah karena desakan dan akal licik kolonial dengan cara menyandera keluarga pejuang, dengan ancaman akan dihabisi kalaub tidak menyerah. Akhirnya dengan sangat terpaksa mereka banyak yang menyerah dan dibuang keluar dari bumu Kalimantan bekas wilayah kesultanan Banjar sebagai tawanan perang dan harus hidup dalam pengasingan sapai pada akhir hayatnya.
Diantaranya Gusti Muhammad Arsyad menantu Sultan Muhammad Seman suami dari Puteri Zaleha. Ia dibuang ke Buitenzorg (sekarang Kota Bogor) pada tanggal 1 Agustus 1904. sebelumnya bersama istrinya Gusti Muhammad Arsyad berjuang penuh keberanian melawan kolonial. Setelah Benteng Manawing jatuh dan Sultan Muhammad Seman Gugur, keduanya bersembunyi ke Lahai dan kemudian ke Mia ditepi Sungai Teweh.
Pada suatu ketika karena sang suami tertangkap dan kondisi Ratu Zaleha yang tidak mengijinkan, Kartini Kalimantan ini merasa letih dan lelah, akhirnya setelah berjuang sendiri selama 2 tahun sejak suaminya tertangkap, maka pada tahun 1906 ia menyerahkan diri kepada Belanda. Atas permintaannya Puteri Zaleha mengikuti suaminya di Bogor dn menghabiskan sisa umurnya.
Sebagai kerabat kerajaan dengan gelar Pagustian Ratu Zaleha dianggap membahayakan Belanda bila tetap bertahan di Kalimantan untuk itu ia kemudian dibuang ke Bogor menyusul suaminya.
Dimasa tuanya sang Ratu kembali ke kampung halamannya setelah sekian tahun berada di pembuangan dan pulang kerahmatullah pada tanggal 23 September 1953 dan dimakamkan di Banjarmasin Kalimantan Selatan.**

————————————————————————————————————————————————–

Misteri Danau Undan

Danau Undan tidak berada jauh dari Desa Talan Kecamatan Banua Lawas, hanya sekitar dua jam perjalanan memakai perahu dayung (Jukung), Danau tersebut merupakan Danau yang luas dan dalam, ditepi danau tidak didapati tanah untuk berpijak, yang ada hanya perairan rawa dengan tumbuh tumbuhan rawa yang menebarkan fenomena mistis di sekitarnya, Konon kabarnya ditengah Danau terdapat sebuah pohon raksasa yang bisa berpindah-pindah, tak hanya itu Danau tersebut dulunya dipercaya sebagai sebuah pesanggrahan Puteri Mayang Sari dari keturunan Pangeran Suryanata.
Versi lain mengatakan Danau tersebut dulunya tempat berkumpulnya buaya yang berhasil diciptakan oleh seorang sakti yang merupakan nenek moyang warga setempat yang mampu menjadikan bilah korek api menjadi buaya, dan hingga saat ini buaya-buaya tersebut masih ada dan hidup berkembang di dasar danau. Menurut beberapa orang yang pernah menyambangi Danau angker itu menceritakan, luasnya danau seperti sejauh mata memandang, sehingga bila mata hari terbenam tampak keindahan alam yang luar biasa, karena Matahari seolah-olah ketika senja tenggelam ke dasar danau.
Namun hingga saat ini hanya orang-orang tertentu yang berani mendatangi tempat itu karena selain sulit dijangkau, jalan yang dilalui juga masih penuh dengan semak belukar rawa yang masih cukup lebat. Dari jauh sekeliling Danau Undan berupa hutan rawa yang banyak ditumbuhi tanaman-tanaman air jenis rawa. Airnya pun berwarna kecoklatan, hal itu dikarenakan akibat getah akar tumbuhan yang sudah mengendap ribuan tahun.
Cerita lain memaparkan, di Danau Undan ada sebuah binatang Ular Naga dengan besar dan panjangnya tiada terkira. Suatu ketika pada jaman dahulu ditempat tersebut ada seorang pertapa sakti yang berkelahi melawan ular tersebut, perkelahian berlangsung berhari-hari hingga berbulan-bulan tiada henti. Saat sang pertapa lengah, sang Naga menelan sang pertapa di suatu tempat yang sekarang bernama Talan (Desa Talan), kata Talan sendiri berarti telan. Setelah itu sang Naga balik kanan ke danau dan bersemayam disana hingga sekarang.
Hanya saja ada kepercayaan masyarakat sekitar terhadap keberadaan Danau yang meskipun banyak ikannya tapi tak pernah mau memakan umpan bila dipancing itu, biasanya akan memberikan tanda bila terjadi bencana atau masalah nasional. Seperti ketika adanya bencana tsunami dan gemapa bumi di Aceh dan Yogyakarta, sebagian masyarakat setempat mendengar dentuman seperti meriam menggelegar memekakkan telinga berasal dari tengah-tengah danau, begitu juga bila ada masalah nasional seperti pemilu dan sebagainya, dentuman seperti meriam itupun akan terdengar lagi.
Karena itulah, menurut pandangan batin orang hawas Danau Undan merupakan sebuah kerajaan gaib yang erat hubungannya dengan Pangeran Suryanata dan Puteri Mayang Sari. **


TAGS


Comment
  • Andre 7 years ago

    saya pernah mensearch danau Undan melalui google maps,bentuknya agak aneh dengan warna hitam pekat,jauh berbeda dengan alam sekelilingnya yang kehijauan,

-

Author

Follow Me